Bondowoso, PATENNANG.COM – Bulan suci Ramadhan 1447 Hijriyah kembali menyapa umat Muslim di seluruh dunia, membawa serta keberkahan dan kesempatan emas untuk melakukan perbaikan diri.
Lebih dari sekadar menahan lapar dan dahaga, bulan Ramadhan tahun ini kembali ditegaskan sebagai momentum krusial untuk muhasabah (evaluasi diri) guna menakar kualitas keimanan dan memperbaiki perilaku dari sebelas bulan sebelumnya.
H. Abdul Hannan, Owner SPPG Wonosuko Tamanan, Bondowoso, mengatakan muhasabah sebagai inti puasa serta latihan disiplin yang komprehensif, mencakup kejujuran dan pengendalian diri .
Menurutnya, Ramadan menjadi waktu yang tepat untuk menundukkan hawa nafsu dan amarah
“Ramadan adalah waktu terbaik untuk bertanya pada diri sendiri: ‘Apa yang sudah saya perbuat?’. Ini adalah momentum detachment (melepaskan keterikatan duniawi) dan self-discovery (menemukan jati diri kembali),” ungkapnya.
Evaluasi Kualitas Ibadah dan Akhlak
Momentum puasa diharapkan tidak hanya sekadar memindahkan jam makan, tetapi benar-benar bertransformasi menjadi pribadi yang lebih baik. Evaluasi tidak hanya tertuju pada kuantitas, melainkan kualitas: Apakah puasa kita sudah mencegah lisan dari ghibah? Apakah ibadah kita sudah menumbuhkan empati?
“Puasa adalah perisai. Jika hal yang halal (makan/minum) saja bisa ditinggalkan demi Allah, seharusnya meninggalkan hal yang haram lebih mudah dilakukan. Ini adalah esensi kejujuran dalam muhasabah,” ujar H. Abdul Hannan.
Menuju Pribadi yang Bertakwa
Ramadhan 1447 H diharapkan menjadi titik balik atau “restarting point” untuk meningkatkan kualitas diri, hati, dan pola pikir. Dengan melakukan muhasabah, diharapkan setelah puasa berakhir, perubahan positif yang terbentuk tidak hanya sementara, melainkan berkelanjutan menjadi gaya hidup.
“Mari jadikan Ramadhan ini sebagai madrasah untuk memperbaiki diri agar menjadi pribadi yang lebih bertakwa, sebagaimana tujuan utama puasa yang tercantum dalam QS. Al-Baqarah: 183,” tuturnya.
Dengan momen refleksi yang mendalam, Ramadhan bukan hanya bulan ibadah ritual, melainkan madrasah jiwa yang sesungguhnya untuk memperbaiki diri.(*)
